Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller
Di penghujung tahun saat ini, ketika kota Jakarta diselimutu kabut dan keriuhan, lima lelaki berusia setengah abad berdiri di sebuah studio sempit di kawasan Condet. Wajah mereka dilumuri cat putih, dengan senyum merah lebar yang ditarik paksa hingga ke pipi, seperti topeng yang menertawakan dirinya sendiri. Bimbim, si drummer, memandang kawannya melalui cermin monitor rekaman. “Kita main Joker,” bisiknya, “tapi Joker yang tahu dia cuma badut dalam sirkus besar.”
Lagu itu lahir dari kesunyian jam tiga pagi, dari kegelisahan yang tak bisa lagi dipendam. “Republik Fufufafa”, sebuah frasa yang terdengar seperti tertawaan tercekik, seperti eforia yang pahit. Sebuah negeri dalam imajinasi, tapi juga cermin dari negeri yang nyata.
Aku lahir di negeri kacau balau
Orang-orangnya pada sakau-sakau
Sakau kuasa, sakau narkoba…
Kata “sakau” itu menggantung di ruang rekaman seperti asap rokok yang tak kunjung hilang. Bimbim ingat masa mudanya, ketika Slank masih bermain di pinggir rel kereta, menyanyikan protes dengan gitarnya yang murah. Dulu, “sakau” adalah tentang pecandu yang gemetar di sudut gelap. Kini, kata itu meluas menjadi metafora untuk seluruh bangsa yang kecanduan: candu kuasa, candu perhatian, candu kemarahan, candu kesenangan semu.
Dia ingat sebuah pertunjukan di istana beberapa tahun silam. Lampu sorot yang menyilaukan, jabat tangan dengan orang-orang terkuat negeri. Saat itu, ada yang berbisik: “Slank sudah jadi bagian dari mereka.” Bisikan itu mengendap, tumbuh seperti lumut di batu kesadaran.
Topeng Joker
Di layar monitor, wajah mereka yang dicat menatap balik. Setiap garis merah di sudut bibir adalah tanda tanya: Apakah kita masih yang dulu? Atau justru menjadi bagian dari kegilaan yang kita kritik?
Karakter Joker yang mereka pilih bukan kebetulan. Di komik Batman, Joker adalah cermin retak dari kota Gotham, produk sekaligus penantang sistem. Dia tertawa bukan karena bahagia, tapi karena mengenali absurditas yang menjadi norma. Slank, dengan topeng Joker mereka, sedang bertanya pada diri sendiri: Di mana posisi kita dalam absurditas negeri ini?
Ada seorang fans tua yang meninggalkan komentar di YouTube: “Slank kembali ke akar.” Tapi akar yang mana? Akar sebagai pengkritik, atau akar sebagai entertainer yang paham bahwa kontroversi adalah mata uang baru di era digital?
Fufufafa, Hantu Digital
Fufufafa. Nama itu muncul dari kegelapan internet, dari forum-forum tanpa wajah. Sebuah akun anonim yang menjadi suara tanpa tubuh, kritik tanpa risiko. Dengan mengabadikan nama itu dalam lagu, Slank sedang membangun jembatan antara dua dunia: dunia nyata di mana mereka harus berjabat tangan dengan kekuasaan, dan dunia maya di mana semua orang bisa bersembunyi di balik avatar.
Tapi siapa sebenarnya Fufufafa? Mungkin kita semua. Mungkin setiap warga yang merasa punya sesuatu untuk dikatakan, tapi takut atau tak punya tempat. Slank, dengan platform mereka, menjadi pengeras suara untuk hantu-hantu digital itu, suara yang tak berani menampakkan wajah.
Dalam satu adegan video klip, ada shot close-up tangan Bimbim memukul drum. Tangan yang sama yang pernah bersalaman dengan presiden, yang pernah menerima penghargaan, yang sekarang menabuh ritme perlawanan. Inilah paradoks Slank: bagaimana mengkritik sambil tetap diundang ke pesta kekuasaan? Bagaimana menjadi suara jalanan ketika Anda sudah lama tidak tidur di jalanan?
Seorang teman jurnalis pernah berbisik kepada saya: “Slank itu seperti air, mengalir ke mana saja, mengambil bentuk wadahnya.” Tapi air bisa mengikis batu, bisa menjadi banjir yang menerjang. Mungkin “Republik Fufufafa” adalah upaya mereka untuk kembali menjadi air yang menggerus, bukan air yang diam dalam gelas kristal istana.
Tertawa di Tepi Jurang
Di akhir video klip, mereka tertawa, tertawa dengan riasan Joker yang pecah di sudut mata. Tertawa seperti orang yang tahu lelucon terbesar adalah dirinya sendiri. Slank yang mengkritik “orang-orang sok tahu” sementara mereka sendiri telah menjadi ikon yang dianggap tahu segalanya. Slank yang menyindir “sakau kuasa” sementara mereka pernah berdiri paling dekat dengan kuasa.
Tapi mungkin justru di situlah letak kejujuran mereka. Dengan menjadi Joker, mereka mengakui: kami adalah bagian dari masalah. Kami tertawa karena jika tidak, kami akan menangis. Kami menyanyi karena jika tidak, kami akan diam dan diam adalah persetujuan.
“Republik Fufufafa” bukan lagu untuk dijawab. Ini lagu untuk direnungkan, seperti bercermin di kaca yang sengaja dibiarkan retak. Setiap kita akan melihat wajah sendiri yang terdistorsi, penguasa akan melihat kegilaan kekuasaan, rakyat akan melihat kepasrahan kita, intelektual akan melihat kemunafikan analisis.
Slank, di usia ke-42, seperti seorang kawan lama yang datang tengah malam, mengetuk pintu dengan botol minuman setengah habis. “Dengar,” katanya dengan suara serak, “kita semua tinggal di negeri yang sama. Negeri di mana kita tertawa agar tidak menangis, berkata-kata agar tidak diam, berkarya agar tidak hanyut.”
Dan kita, para pendengarnya, tersenyum kecut, menyadari bahwa Fufufafa bukanlah tempat jauh di peta. Fufufafa ada di sini, dalam diri kita yang terus bertahan di tengah kekacauan, yang masih menemukan keberanian untuk bernyanyi meski suara kita pecah.
Mungkin itulah makna sebenarnya: di Republik Fufufafa, kita semua adalah badut yang memilih terus tertawa. Bukan karena bahagia, tapi karena itulah satu-satunya cara untuk tetap waras. Tabik.
